Minggu, 18 September 2016

CHaPteR 1


   ( Till the end of Time )

       
I’VE NEVER SAID THIS BEFORE
TO TELL YOU THE TRUTH. I FELT MY HEART BEATING ON THE DAY
SINCE THE BEGINNING I KNEW
I WASN’T SURE BUT I FELT LIKE OUR FATE WAS ALREADY DECIDED
LOVE IS COMING TO ME
IT LEADS ME TOWARD YOU
I FEELS LIKE A DREAM THAT I’IL NEVER WAKE UP FROM
IT REALY SEEMS LIKE A DREAM
THANK YOU FOR COMING TO ME

---
            Rae-hee hanya terpaku didepan ruangan yang tak sering disinggahi oleh pemiliknya. Walaupun selama lima belas menit terakhir kesepuluh jarinya dengan kuat memengang ponsel, ia bahkan sama sekali tidak menggerakkan jemari untuk memainkannya.
            Ia diam. Pandangannya kosong tidak ada yang dipikirkan olehnya melainkan terbuai dengan lamunan dan berharap si pemilik ruangan itu segera datang untuk memenuhi janjinya. Perasaan cemas perihal apa yang mereka bicarakan tadi dengan begitu mudah hinggap dalam hatinya. Apalagi sudah lebih dari sejam ia menunggu kekasihnya yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.
            Rae-hee menghela napasnya berat. Ia tau kalau seharusnya ia tidak lagi berhubungan dengan ji-young. Tapi pria yang bernama lengkap park ji-young ini tetap bersikeras mempertahankan hubungan mereka. Joung-hyun ayahnya ji-young telah beberapa kali melarang anaknya itu untuk bertemu dengan Rae-hee, namun upaya yang dilakukannya tidak memberikan kesulitan untuk ji-young.
            Rae-hee mulai mengubah posisi duduknya, merebahkan kepalanya kedinding dengan sedikit  memiringkan badan dan duduk bersilaan. Kegelisahan sangat terpampang di raut wajahnya. Ia menutup matanya, dan lagi-lagi menghelakan napas. Sesak.
            Ia terkesiap saat melihat ada yang datang. Bola matanya mulai mengayun kesana kemari untuk memastikan ia tidak salah melihat. Setelah yakin dengan apa yang dilihatanya , ia mulai focus pada satu titik pandang yaitu park ji-young yang telah lama ditunggunya. Rae-hee berdiri menandakan ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya itu. Tatanan rambutnya yang mulai kusut ia rapikan kembali agar tidak terlihat lusuh didepan park ji-young. Begitu besar rasa rindu yang selama ini ia pendam, namun baru sekarang ia bisa memuncahkan semuanya. Seperti berada diambang mimpi baginya saat bisa kembali bertemu dengan ji-young setelah 1 tahun terpisah dikarenakan ji-young yang harus melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
            Ji-young dengan santai melangkahkan kakinya mendekati Rae-hee. Matanya tajam menatap Rae-hee yang sekarang berdiri tepat dihadapannya. Ada rasa senang, sedih, duka, dan bahkan tak rela dalam benak ji-young. Dimana ia harus menyampaikan sebuah kabar kepada Rae-hee yang bisa membuat gadis itu sakit dan bahkan membenci dirinya setelah itu.
            Rae-hee berdeham hingga membuat ji-young tersadar dari lamunannya. Rae-hee mulai melihat ji-young yang hanya terdiam semenjak ia menginjakkan kaki di depan apartemen yang telah lama ditinggalkan.
            “ apakah kau tidak senang untuk bertemu denganku lagi, ji-young ya?” decaknya sebal yang hanya mendapat gumanan maaf dari sang kekasih .

            Rae-hee mengernyit. Nada suara dinaikkan olehnya yang sedikit membuat lamunan ji-young terguncah. “ ji-young ya.. kau baik-baik saja?” Tanya kemudian, melupakan kekesalan karena terlalu lama menunggu kekasihnya itu.
            “ya aku baik-baik saja. Bagaimana dengan keadaanmu? Ji-young mulai angkat bicara setelah lama ia diam membisu. Awalnya ji-young sedikit ragu dengan isu yang ia dengar dari beberapa teman dekatnya. Tetapi semua itu berubah dari keraguaan menjadi kepastian.

            Rae-hee seketika itu diam membisu perihal apa yang ditanyakan oleh ji-young kepadanya. Buliran bening mulai mengeruyak dari kelopak matanya. Beberapa kata pun mulai mengalun indah dari bibirnya. “ ji-young oppa, semenjak kepergianmu aku  merasa kehidupanku sudah berada di titik akhir, aku merasa cemas dan khawatir untuk menjalankan rutinitasku. Terlebih semenjak appamu mulai memata-matai semua yang menyangkut dengan diriku. Ia bahhkan sempat mengancamku jika aku terus berhubungan denganmu… “. Ji-young seketika itu shock dengan apa yang diutarakan oleh rae-hee. ia tidak rela melihat air mata yang keluar dari kelopak mata Rae-hee. Ia sepontan meletakkan tangannya di atas bahu gadis itu dan mulai menarik gadis itu kedalam pelukannya.


                                                                                                TO BE CONTINUED !!!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar