Hembusan angin dimusim gugur
berayun senada gemerlap langit. Helai demi helai lembaran kehidupan
dilaluinya dengan lembut dan ringan. Hingga suatu saat tangisan seorang bayi
terdengar nyaring ditelingnya yang membuatnya terpaksa berhenti sejenak dari beban
pikul yang ia lakoni dalam keseharian walaupun hanya seulas senyuman yang
terpancar kala itu.
Jajaran tapak demi tapak bergelenggu
membalut hawa nafsu yang terpecah belah. Namun, buliran itu tidak sekalipun di
tampakkannya di hadapan buah cintanya. Menurutnya, kesedihan dalam bentuk
apapun akan terganti dengan sendirinya saat ia melihat anaknya itu.
Syahdu seorang gadis dari desa
daegu. Kampung halaman yang amat dicintainya itu menikmati hidup dengan
keikhlasan yang teramat dalam.
Ia hanya hidup dengan
seorang perempuan yang sudah renta. Ya.. perempuan itu adalah seorang wanita
kuat dan sangat bijaksana yang ia
panggil “ IBU “.
“Ibu… syahdu hendak kepasar dulu?” Pintanya kepada sang ibu.
“Jangan nak, jangan tinggalkan ibu sendiri.”Jawab wanita itu
dengan penuh ketakutan.
“Ibu, kenapa aku tidak boleh pergi. Aku ke sana hanya untuk
membeli beberapa bahan untuk memasak.” Ujarnya lagi.
Tidak.. ibu tidak mau kau pergi lagi sudah cukup sekali..
Maksud ibu?
Selama ini endah wanita yang dipanggil ibu oleh seorang gadis
yang bernama syahdu, menyimpan rasa kegundahannya sendiri pasalnya ia telah
beberapa kali bermimpi anaknya meninggal .
Ia mencoba menenangkan dirinya melawan halusinasi mimpi yang
berkoar-koar dalam beberapa hari. Namun
Ibu…
syahdu memangil ibunya untuk beberapa kali sampai saat dimana
ia memanggil ibunya dengan nada yang agak dikeraskan.
Ibu…. Ibu…. Ibu….
Ohh.. Ibunya seraya tersentak dengan panggilan itu.
Ibu.. ceritakan pada syahdu apa yang sebenarnya terjadi?
Tidak anakku.. ibu hanya tidak mau kau jauh dari ibu.
Ibu.. aku akan pergi 5 menit sajakan. Jadi kenapa ibu
berbicara begitu.
Kini ibunya hanya bisa pasrah ia merelakan putrinya pergi
untuk beberapa saat. Hatinya sedikit berat saat gadis itu telah menghilang didepan matanya.
ia berjalan menuju rumah yang telah sedikit using dimakan
usia. Sebuah tempat teduh yang memancarkan kadamaian yang sangat tentram dalam
hatinya. Sedih.. ya sedihlah yang kini merasuki jiwanya.
Matanya sembab.. ia merasakan hal yang tidak biasa. Tubuh
tegarnya kini bertengger didekat parapian. Ia bersikukuh untuk menompang
tubuhnya. Namun, tidaklah mudah.
Pemandangan sekitar mulai buram. Ia menangis terus tersendu
dengan ahwatnya sampai cahaya menghilang dalam tak berbekas.
……………….
1 jam kemudian.
Syahdu tiba didepan rumahnya dengan wajah yang ceria. Secara
tak sengaja ia melihat kumpulan orang yang sedang mengerumuni rumahnya.
Apa yang terjadi.. ucapnya binggung.
Detak jantungnya berdegup kencang tak karuan. Ia geregetan
dengan kesalahannya. Ia takut akan terjadi sessuatu dengan ibunya. Ia tundukan
kepalanya menyatakan dirinya telah bersalah meninggalkan ibu lebih dari 5
menit.
Seseorang berlari dari luar rumah itu dan berjalan menuju ke
syahdu. Wajahnya tidak beraturan dengan hentakan yang kecapean.
Kak syahdu…
Ada apa? Kenapa wajahmu pucat mei?
Kak syahdu.. ibu,,?
Kenapa dengan ibu? Ayo jelaskan dan kenapa orang-orang itu
mengintari rumahku?
kenapa diam ayo jawab?
Ibu kakak udah meninggal.
Hati syahdu terhenyak. Wajahnya pucat. Ia merasa sangat
bersalah. Kakinya sudah tak kuat menahan beban hingga ia tersimpuh dengan
mudahnya di atas permukaan bumi.
Penyesalan yang teramat dalam tak dapat diobatinya.
Seandainya aku mendengar kata ibu tadi. Pasti ibu masih ada.. ya ALLAH..
Syahdu berteriak dalam kebisuan. Sorotan mata kini
bergelenggu kehadapannya. Seorang tetangga datang dengan penuh perhatian.
Sudah sudahlah nak.. penyesalanmu tidak akan selesai jika
kamu terus begini. Masuklah kedalam lihat jasad ibumu sebelum beliau
dikuburkan.
Tidak.. saya tidak sanggup untuk melihat jasa ibu. Itu
terlalu menyakitkan. Secara tidak sengaja saya telah menjadi anak durhaka
karena telah melanggar janji. Saya tidak sanggup.
Syahdu.. masuklah jangan membuat ibumu semakin sedih dengan
kelakuanmu.
Ia berjalan memasuki rumahnya dengan langkah yang tertatih-tatih. Ia berdiri didepan pintu
sejenak sebeluk berlari untuk meringuk tubuh ibunya itu.
Ia meratapi wajah ibunya dengan segala hal yang terus
menghantuinya. Ia peluk jasad ibu dengan tangisan yang menandakan ia tidak
sanggup menahan beban.
Ibu.. maafkan anakmu yang durhaka ini. Ibu…
Sampai jasad ibunya dikuburkan syahdu masih saja larut dalam
penderitaannya. Ia terpukul sungguh sangat terpuku sampai ia tidak sadarkan
diri.
.................
Cahaya mulai menyatu lagi dengan bola matanya. Ia masih
terpaut akan kesedihan.
Ibuu… ibuu.. maafkan anakmu.. hahaha
Ibu.. tunggu aku, akuakan memasakkanmu masakan terenak hari
ini.
Aku akan membedah rumah kita. Ahh ibu bangunlah datang kesini
temani aku, aku takut..
Ibu..
Syahdu kehilangan akal sehatnya, ia kini menetap disebuah rumah
sakit karena beban sangat berat baginya. padahal syahdu tidak pernah melawan
ibunya karena ia termasuk anak yang penurut.