Daun
berjatuhan menutupi jalan setapak yang membentang dengan luasnya keufuk timur.
Samarku dengar hembusan angin berlalu tanpa kehadiranmu. Senyum yang lekat pada
ruas wajahnya tersimpan direlung jiwaku. Hidup yang kujalani seolah tak menjadi
arti di memori ingatan. Kembali ku mengulas semua kenangan yang pernah kita
rasapi bersama. Ku atur napas untuk mengendalikan degupan keras yang berdentum
kacau di dada.
Kehilangan
ini sangat terasa pada diriku. Secara perlahan poros bumi berpindah menjalar
kearah yang lebih tinggi. Detik ini juga, ku merasakan rotasi seakan-akan tidak
bekerja sebagaimana mestinya. Segala sesuatu bergerak lebih lambat. Ingin
kuulangi untuk sekali saja waktu sehingga dapat tercipta kenangan yang lebih
mendalam lagi. Firasat janggal yang belum sepenuhnya kupahami samar menyerukan
namanmu. Mulutku terbungkam melihat mereka saling bersama tanpa perpisahan yang
menanggalkan. Menelusuri setiap inci buku yang pernah tergores akan tanganmu,
selalu ku ratapi dengan seksama. Alasanku membuat keputusan ini sedikit
menyayat hatimu. Kesepakatan untuk setia dalam detik keabadian tidak sepenuhnya
sempurna. Sorot mata dirimu masih kental dalam logika ingatanku. Perubahan raut
wajah yang terpancar dari dirinya akan selalu hidup diujung akhir waktu senjaku.
Rasa penyesalan kembali mendominasi
pikiranku. Hatiku kerap menyerukan kalimat pembantahan, namun betapapun kerasnya
pembantahan itu tidak akam membuatku dapat mengubah semua yang telah terjadi.
Kerinduanku akan sesosok dirinmu menempati peringkat utama dihatiku. Kini
diriku hanya dapat mengganguk lemah tanpa daya. Jiwaku memang akan pergi, tapi
hatiku tetap setia padamu. Bersama ingatan yang tersimpan tidak akan pernah
bisa kuhapus begitu saja sesuai dengan petunjuk.Aku melanggar peraturan yang kita
sepakati waktu itu sehingga memincingkan amarah yang teramat dalam darimu. Aku
tau aku salah tapi bisakah kau memaafkanku? Terlintas dalam benakku seketika
itu juga saat kau mengajukan perjanjian yang harus ku jalani.
“ bisakah kau mengembalikan senyummu yang
perlahan memudar seiring berjalannya waktu”. Bisikku padanya
“ bisakah kenagan itu hidup dalam memori
samarmu ”. Balasnya dengan ekspresi datar.
“
aku tau bahwa aku salah, tapi kumohon satu hal padamu untuk tidak menjauhiku”.
Pintaku kembali.
“
maafkan aku, ini sudah terlanjur terjadi. Kuharap dirimu tidak akan mengulangi
lagi pada yang lain”. Jawabnya ketus.
Air mata mulai mengalir dihatiku saat
dirimu mengakatakan semua itu. Benakku kembali bergeming. Akankah kau melupakan
semuanya ? jika memang kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi.
ketahuilah satu hal, jika aku tetap menganggapmu sebagai sahabat sampai akhir titik penghabisanku. hidupku kurang lengkap
tanpamu. Aku berharap suatu hari nanti dirimu kembali menerimaku sebagai sahabatmu
lagi. Aku sangat menyayangimu sahabatku ;(