Sabtu, 29 November 2014

Cerpen Untuk Sahabat



Daun berjatuhan menutupi jalan setapak yang membentang dengan luasnya keufuk timur. Samarku dengar hembusan angin berlalu tanpa kehadiranmu. Senyum yang lekat pada ruas wajahnya tersimpan direlung jiwaku. Hidup yang kujalani seolah tak menjadi arti di memori ingatan. Kembali ku mengulas semua kenangan yang pernah kita rasapi bersama. Ku atur napas untuk mengendalikan degupan keras yang berdentum kacau di dada.
 Kehilangan ini sangat terasa pada diriku. Secara perlahan poros bumi berpindah menjalar kearah yang lebih tinggi. Detik ini juga, ku merasakan rotasi seakan-akan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Segala sesuatu bergerak lebih lambat. Ingin kuulangi untuk sekali saja waktu sehingga dapat tercipta kenangan yang lebih mendalam lagi. Firasat janggal yang belum sepenuhnya kupahami samar menyerukan namanmu. Mulutku terbungkam melihat mereka saling bersama tanpa perpisahan yang menanggalkan. Menelusuri setiap inci buku yang pernah tergores akan tanganmu, selalu ku ratapi dengan seksama. Alasanku membuat keputusan ini sedikit menyayat hatimu. Kesepakatan untuk setia dalam detik keabadian tidak sepenuhnya sempurna. Sorot mata dirimu masih kental dalam logika ingatanku. Perubahan raut wajah yang terpancar dari dirinya akan selalu hidup diujung akhir waktu senjaku.
          Rasa penyesalan kembali mendominasi pikiranku. Hatiku kerap menyerukan kalimat pembantahan, namun betapapun kerasnya pembantahan itu tidak akam membuatku dapat mengubah semua yang telah terjadi. Kerinduanku akan sesosok dirinmu menempati peringkat utama dihatiku. Kini diriku hanya dapat mengganguk lemah tanpa daya. Jiwaku memang akan pergi, tapi hatiku tetap setia padamu. Bersama ingatan yang tersimpan tidak akan pernah bisa kuhapus begitu saja sesuai dengan petunjuk.Aku melanggar peraturan yang kita sepakati waktu itu sehingga memincingkan amarah yang teramat dalam darimu. Aku tau aku salah tapi bisakah kau memaafkanku? Terlintas dalam benakku seketika itu juga saat kau mengajukan perjanjian yang harus ku jalani.
 “ bisakah kau mengembalikan senyummu yang perlahan memudar seiring berjalannya waktu”. Bisikku padanya
 “ bisakah kenagan itu hidup dalam memori samarmu ”. Balasnya dengan ekspresi datar.
“ aku tau bahwa aku salah, tapi kumohon satu hal padamu untuk tidak menjauhiku”. Pintaku kembali.
“ maafkan aku, ini sudah terlanjur terjadi. Kuharap dirimu tidak akan mengulangi lagi pada yang lain”. Jawabnya ketus.
          Air mata mulai mengalir dihatiku saat dirimu mengakatakan semua itu. Benakku kembali bergeming. Akankah kau melupakan semuanya ? jika memang kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu lagi. ketahuilah satu hal, jika aku tetap menganggapmu sebagai sahabat sampai akhir  titik penghabisanku. hidupku kurang lengkap tanpamu. Aku berharap suatu hari nanti dirimu kembali menerimaku sebagai sahabatmu lagi.  Aku sangat  menyayangimu sahabatku  ;(